Rabu, 28 Oktober 2015

RELIEF CANDI BOROBUDUR

Mengenal Makna Relief Candi Borobudur





Grafis Borobudur tampak atas karya Gunawan Kartapranata [http://id.wikipedia.org]

Arsitektur Candi Borobudur diyakini memiliki makna penting tentang pemahaman manusia terhadap kehidupan dunia dan keyakinan religi manusia pada masa pembangunannya. Selain sebagai lambang alam semesta dengan pembagian vertikal (Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu), Candi Borobudur juga mengandung maksud tertentu yang dilukiskan melalui relief-relief ceritanya. Menurut catatan Balai Konservasi Borobudur, dalam bangunan Candi Borobudur terdapat 1.460 panil relief cerita (tersusun 11 deretan mengitari bangunan candi)  dan relief dekoratif (berupa relief hias) sebanyak 1.212 panil.

Relief cerita pada tingkat Kamadhatu (kaki candi) mewakili dunia manusia menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi. Hal ini terlihat pada dinding kaki candi yang asli terpahatkan 160 panil relief  Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab akibat. Tingkat Rupadhatu (badan candi) mewakili dunia antara, menggambarkan perilaku manusia yang sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi, akan tetapi masih terikat oleh suatu pengertian dunia nyata. Pada tingkatan ini dipahatkan 1.300 panil yang terdiri dari relief Lalitavistara, Jataka, Avadana, dan Gandawyuha. Sedang pada tingkat Arupadhatu tidak ada relief, melainkan terdapat patung-patung

Berikut uraian singkat dari relief tersebut:
 Tingkat I
Dinding atas relief Lalitavistara (120 panil). 
Bas-reliëfs van de verborgen voet van de Borobudur (1890-1891) 
[foto Kassian Cephas -repro koleksi Museum van Volkenkunde]

Relief Lalitavistara menggambarkan riwayat hidup Sang Buddha Gautama dimulai pada saat para dewa di surga Tushita mengabulkan permohonan Bodhisattva untuk turun ke dunia menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama. Ratu Maya sebelum hamil bermimpi menerima kehadiran gajah putih dirahimnya. Di Taman Lumbini Ratu Maya melahirkan puteranya dan diberi nama pangeran Sidharta. Pada waktu lahir Sidharta sudah dapat berjalan, dan pada tujuh langkah pertamanya tumbuh bunga teratai. Setelah melahirkan Ratu Maya meninggal, dan Sidharta diasuh oleh bibinya Gautami. Setelah dewasa Sidharta kawin dengan Yasodhara yang disebut dengan dewi Gopa. Dalam suatu perjalanan Sidharta mengalami empat perjumpaan yaitu bertemu dengan pengemis tua yang buta, orang sakit, orang mati membuat Sidharta menjadi gelisah, karena orang dapat menjadi tua, menderita, sakit dan mati. Akhirnya Sidharta bertemu dengan seorang pendeta, wajah pendeta itu damai, umur tua, sakit, dan mati tidak menjadi ancaman bagi seorang pendeta. Oleh karena menurut ramalan Sidharta akan menjadi pendeta, maka ayahnya mendirikan istana yang megah untuk Sidaharta. Setelah mengalami empat perjumpaan tersebut Sidharta tidak tenteram tinggal di istana, akhirnya diam-diam meninggalkan istana. Sidharta memutuskan enjadi pendeta dengan memotong rambutnya. Pakaian istana ditinggalkan dan memakai pakaian budak yang sudah meninggal, dan bersatu dengan orang-orang miskin. Sebelum melakukan samadi Sidharta mensucikan diri di sungai Nairanjana. Sidharta senang ketika seorang tukang rumput mempersembahkan tempat duduk dari rumput usang. Di bawah pohon Bodhi pada waktu bulan purnama di bulan Waisak, Sidharta menerima pencerahan sejati, sejak itu Sidharta menjadi Buddha di kota Benares.

Dinding bawah relief  Manohara dan Avadana (120 panil)
Borobudur; uit Borobudur Series no. 13-14: 
reliëf 1e gaanderij no. 11 Boven: De Boddhisattwa''s huldigen den Boddhisatwa Beneden: geschiedenis van Prins Sudhana. Manohara''s vlucht 
 [ Foto Kinsbergen 1873 - repro koleksi Museum van Volkenkunde]
Cerita Manohara menggambarkan cerita udanakumaravada yaitu kisah perkawinan pangeran Sudana dengan bidadari Manohara. Karena berjasa menyelamatkan seekor naga, seorang pemburu bernama Halaka mendapat hadiah laso dari orang tua naga. Pada suatu hari Halaka melihat bidadari mandi di kolam, dengan lasonya berhasil menjerat salah seorang bidadari tercantik bernama Manohara. Oleh karena Halaka tidak sepadan dengan Manohara, maka Manohara dipersembahkan kepada pangeran Sudana, meskipun ayah Sudana tidak setuju. Banyaknya rintangan tidak dapat menghalangi pernikahan pangeran Sudana dengan Manohara. Cerita Awadana mengisahkan penjelmaan kembali orang-orang suci, diantaranya kisah kesetiaan raja Sipi terhadap makhluk yang lemah. Seekor burung kecil minta tolong raja Sipi agar tidak dimangsa burung elang. Sebaliknya burung elang minta raja Sipi menukar burung kecil dengan daging raja Sipi. Setelah ditimbang ternyata berat burung kecil dengan raja Sipi sama beratnya, maka raja Sipi bersedia mengorbankan diri dimangsa burung elang. Seorang pemimpin harus berani mengorbankan dirinya untuk rakyat kecil dan semua makhluk hidup.

Langkan bawah (kisah binatang) relief Jatakamala (372 panil) 
dan Langkan atas (kisah binatang) relief Jataka (128 panil)

Relief ini mempunyai arti untaian cerita jataka yang mengisahkan reinkarnasi sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai seorang manusia bernama pangeran Sidharta Gautama. Kisah ini cenderung pada penjelmaan sang Buddha sebagai binatang yang berbudi luhur dengan pengorbanannya. Cerita jataka diantaranya kisah kera dan banteng. Kera yang nakal suka mengganggu banteng, namun banteng diam saja. Dewi hutan menasehati banteng untuk melawan kera, namun banteng menolak mengusir kera karena takut kera akan pergi dari hutan dan mengganggu kedamaian binatang-binatang lain. Akhirnya dewi hutan bersujud kepada banteng karena sikap banteng didalam menjaga keserasian dan kedamaian di hutan. Kisah jataka lainnya adalah pengorbanan seekor gajah yang mempersembahkan dirinya untuk dimakan oleh para pengungsi yang kelaparan.

Tingkat II
Dinding relief Gandawyuha (128 panil)
dan Langkan relief Jataka/Avadana (100 panil)
Siddhartha Gautama mencukur rambutnya
Relief ini mungkin melanjutkan kehidupan Sang Buddha di masa lalu. Beberapa adegan dikenal kembali antara lain terdapat pada sudut barat laut, yaitu Bodhisattva menjelma sebagai burung merak dan tertangkap, akhirnya memberikan ajarannya.

Tingkat III:
Dinding relief Gandawyuha (88 panil)
Borobudur; uit Borobudur Series no. 25-26
reliëf 1e gaanderij 30 Boven: Gautami neemt de verzorging van den Boddhisattwa op zich Beneden: Geschiedenis van Sudhana. Ontvangst aan het hof.
 [ Foto Kinsbergen 1873 - repro koleksi Museum van Volkenkunde]
Relief pada tingkatan ini menggambarkan riwayat Bodhisattva Maitreya sebagai calon Budha yang akan datang, merupakan kelanjutan dari cerita di tingkat II.


 Het hoofdthema van de reliëfs draait om beloning en vergelding. Tegelijkertijd geven ze een beeld van het dagelijkse leven op Java in de achtste en negende eeuw. Naast conventionele afbeeldingen van hemel en hel zijn scènes uit het dagelijkse leven te zien van aardse ideologieën en verlangens, wereldse successen en drama's, van goede en slechte zaken die het gevolg zijn van daden uit het verleden en bepalen of de mens in de toekomst beloning of vergelding te wachten staat. — Vier mannen zitten in meditatie in een grot, omringd door bloeiend landschap met planten en wilde dieren. Een zinspeling op het streven naar de spirituele verlossing die het doel moet blijven.
 [foto Kassian Cephas - repro koleksi Museum van Volkenkunde]

Tingkatan paling atas Candi Borobudur dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud).  Pada tingkatan ini, manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa namun belum mencapai nirwana. Pada Arupadhatu yang terlihat adalah stupa-stupa terawang yang di dalamnya terdapat patung Buddha. Di tingkatan tertinggi dari Candi Borobudur yang memiliki total 10 tingkatan atau pelataran ini terdapat sebuah stupa yang terbesar dan tertinggi. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Unfinished Buddha yang kini di simpan di Museum Karmawibhangga.

 Stupa Borobudur [ foto Vav Kinsbergen - 1873  repro koleksi Museum van Volkenkunde]

Sumber narasi: Balai Konservasi Borobudur/Indonesia Travel 
Sumber foto: repro koleksi Museum van Volkenkunde

Sejarah Panjang Selfie dan si Tongkat Narsis

Sejarah Panjang Selfie dan si Tongkat Narsis


Ok sob,kali ini saya akan memberikan informasi mengenai sejarah TONGSIS .
Informasi ini saya kutip dari
Oik Yusuf - Kompas Tekno
Senin, 19 Januari 2015 | 10:14 WIB
Gizmodo

Ilustrasi alat serupa tongsis dalam dokumen paten yang diajukan Wayne Fromm pada 2006
KOMPAS.com - Popularitas tongkat narsis alias tongsis -atau selfie stick dalam bahasa Inggris- meledak seiring dengan menanjaknya trend selfie dengan smartphone.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa tongsis sebenarnya telah muncul lama sebelum smartphone mulai beredar di pasaran.

Sebagaimana dikutip KompasTekno dari Gizmodo, Senin (19/1/2015), alat berbentuk tongkat panjang yang salah satu ujungnya dijadikan tempat nangkring alat pengambil gambar ini pernah dipatenkan dan dipasarkan oleh seorang penemu bernama Wayne Fromm pada 2006.

Dia rupanya menyadari sulitnya mengambil foto diri sendiri ketika sedang berjalan-jalan, lalu melihat peluang bisnis dari hal tersebut. 

Sayang penemuan Fromm yang dinamai Quick Pod  kurang diminati pasar. Maklum, kegiatan selfie dengan ponsel pintar ketika itu belum marak.

Fromm belakangan mencak-mencak karena menilai produk buatannya telah dijiplak oleh pabrikan tongsis asal Tiongkok yang menuai sukses besar beberapa tahun setelahnya, pada era kejayaan smartphone.
Tess Rinearson/ Twitter
Pengambaran alat serupa tongsis dalam buku UNuseless Japanese Inventions terbitan 1995
Tapi Fromm bukanlah orang pertama yang kepikiran membuat "tongsis". Lebih dari satu dekade sebelum Fromm mematenkan idenya, tongsis sudah mejeng dalam sebuah buku terbitan 1995.

Buku yang bersangkutan, berjudul UNuseless Japanese Invention, memuat daftar penemuan dari Negeri Sakura yang dinilai tidak berguna. Rupanya masyarakat ketika itu masih memandang tongsis sebagai barang aneh.

Konsep tongis mungkin masih terlihat asing bagi masyarakat pra-smartphone, namun dorongan batin untuk mengambil selfie sudah dialami manusia lebih dari seratus tahun lalu, segera setelah kemunculan fotografi.
Wikipedia, BBCFoto selfie Robert Cornelius dari 1839 (kiri) serta penampakan tongsis dalam foto selife Arnold dan Helen Hogg dari 1925
Foto selfie pertama berasal dari tahun 1839, diambil oleh seorang pelopor fotografi bernama Robert Cornelius. Sementara itu, penampakan terawal tongsis muncul dalam foto selfie Arnold dan Helen Hogg pada 1925. 

Di fotonya, Arnold terlihat memakai sejenis alat mirip tongsis untuk melepas shutter. Selfie dan tongsis si tongkat narsis memang saling terkait dan punya sejarah panjang!

MATA NAJWA

HIGHLIGHT


IDOLA NAJWA SHIHAB



Najwa Shihab Mengidolakan Orang Ini
Rachel Maddow, selaku news presenter, interviewer, dan juga pemandu pertunjukan wicara The Rachel Maddow Show di stasiun televisi MSNBC. (Foto: theguardian.com)
Sebagai pemandu acara talkshow Mata Najwa di MetroTV,Najwa Shihab ternyata juga punya idola dalam profesi yang sama. Orang itu adalah Rachel Anne Maddow, pemandu acara talkshow The Rachel Maddow Show (TRMS) di stasiun televisi MSNBC, yang bermarkas di New York, Amerika Serikat.
Pernyataan bahwa Najwa Shihab mengidolakan Rachel Maddow, setidaknya bisa ditemukan di halaman 5 dari buku berjudul Jurnalis Berkisah – Memetik Inspirasi Perjalanan Karier 10 Jurnalis Terkemuka Indonesia, yang ditulis Yus Ariyanto.
Acara TRMS yang berdurasi 60 menit, adalah merupakan program tayangan televisi yang khusus mengulas berita-berita politik, dan biasanya disisipi sebuah wawancara, yang dikemas dalam sub acara dengan titel, The Interview. Berkat profesionalitas dan kepiawaian Rachel Maddow sebagai host,news presenter, sekaligus interviewer, tak aneh kalau debut acara TRMS yang dimulai sejak 8 September 2008, semakin hari kian mendulang jumlah pemirsa. Selain karena memang, topik yang diulas Rachel Maddow bersama narasumbernya, adalah melulu tentang situasi dan kondisi politik yang paling aktual plus faktual.
Berbagai prestasi mengiringi performa kerja Rachel Maddow yang memang ciamik. Sanjungan datang dari sesama insan jurnalis, seperti misalnya yang dikatakan oleh Matea Gold, salah seorang penulis di Los Angeles Times yang menyebut Rachel Maddow sebagai “finds the right formula on MSNBC”, atau telah menemukan formula yang tepat di stasiun televisi tempatnya bekerja.
13916384111089238605
Gaya Rachel Maddow dalam salah satu talkshow yang dipandunya. (Foto: msnbc.com)
13916385992001052099
Najwa Shihab sedang menyimak jawaban narasumber dalam salah satu episode talkshow Mata Najwa di MetroTV. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Sedangkan media setenar The Guardian menyebutkan, bahwa Rachel Maddow telah menjadi “star of America’s cable news”, bintangnya televisi kabel Amerika Serikat. Beda lagi dengan pendapat Alessandra Stanley dari The New York Times yang intinya menyebutkan, bahwa Rachel Maddow berhasil menampilkan sosok perempuan periang dalam saluran televisi kabel, dengan modulasi suaranya yang tenang meyakinkan, dan ditingkahi lengkingan emosi.
Semua penghargaan atas nama profesi dari rekan sesama insan jurnalis tadi, memang pantas disandang Rachel Maddow. Karena, bayangkan saja, baru delapan hari talkshowTRMS ditayangkan di MSNBC, atau tepatnya 16 September 2008, menurut survey yang valid, acara ini berhasil mengalahkan talkshow paling dahsyat, Larry King Live. Akan tetapi, pada kuartal ketiga tahun 2009, talskhow The Rachel Maddow Show turun tahta ke posisi ketiga, dibawah Fox News’s Hannity dan Larry King Live.
Berikut ini adalah performance Rachel Maddow, sewaktu mewawancarai sejumlah narasumbernya [http://www.youtube.com/watch?v=AkHq_wueVMw], atau juga dalam link ini, [http://www.youtube.com/watch?v=-1Z6mAUAkXA]. Terutama pada link kedua, dapat disaksikan bagaimana Rachel Maddow mengkonfirmasi berbagai fakta dan data yang tertulis di kertas catatannya, sekaligus memantik emosi narasumbernya melalui sedikit perdebatan yang ‘hangat’ tapi penuh keakraban.
13916387911989072442
Rachel Maddow, host talkshow The Rachel Maddow Show di stasiun televisi MSNBC, Amerika Serikat. (Foto: msnbc.com)
13916389561620535792
Najwa Shihab saat memandu talkshow Mata Najwa. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Najwa Shihab “Tertular” Rachel Maddow?
Pertanyaannya sekarang, seberapa besar pengaruh Rachel Maddow dalam performa Najwa Shihab acapkali memandutalkshow Mata Najwa? Untuk menjawabnya, lebih tepat sembari menelaah, bagaimana sebenarnya penampilan Rachel Maddow sewaktu merangkap sebagai hostnews presenterinterviewer, juga commentator.
Pertama, Rachel Maddow bekerja pada jurnalistik desk politik, bidang yang memang disukainya. Sepanjang talkshow-nya, ia mencermati berbagai pemberitaan seputar politik, termasuk mengulas sejumlah kutipan yang disampaikan oleh para politisi di berbagai media massa. Dari sini terlihat, bahwa ada kesamaan isu yang digemari, baik oleh Rachel Maddow maupun Najwa Shihab, yakni politik.
Bergelut dengan isu ‘panas’ politik, merupakan sesuatu yang sesuai dengan latarbelakang pendidikan Rachel Maddow. Tercatat, pada 2001, ia meraih gelar Doctor of Philosophy (DPhil) dalam politik di Universitas Oxford. Tesisnya kala itu berjudul HIV/AIDS dan Reformasi Perawatan Kesehatan di Penjara Inggris dan Amerika Serikat.
1391639058706255528
Rachel Maddow dalam pertunjukan wicara The Rachel Maddow Show. (Foto: msnbc.com)
13916391381317224861
Salah satu gaya Najwa Shihab sewaktu melakukan interview dalam talkshow Mata Najwa. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Sementara bagi Najwa Shihab, selain isu politik, istri dari Ibrahim Assegaf ini juga menyukai isu seputar hukum. Dalam buku Jurnalis Berkisah dipaparkan, sewaktu menerima anugerah KPI Award 2010 untuk talkshow Mata Najwa episodeSeparuh Jiwaku Pergi, yang tayang pada Rabu, 30 Juni 2010, dan menampilkan kisah percintaan BJ Habibie dengan istri tercintanya almarhumah Ainun Habibie, Najwa Shihab mengakui, bahwa episode tersebut bukan tipikal talkshowMata Najwa. Maklum, episode Separuh Jiwaku Pergi, tidak mengangkat tema politik, hukum, juga bukan pula sejarah. “Akar saya politik. Jadi, lebih banyak seputar isu itulah topikMata Najwa,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 2000 ini.
Kedua, jujur saja, memperhatikan gaya Rachel Maddow mewawancarai narasumbernya, terkadang muncul keheranan, karena beberapa kali terlihat, justru Rachel Maddow yang berbicara lebih banyak ketimbang narasumbernya. Untuk lebih mengetahui bagaimana itu terjadi, silakan simak wawancara Rachel Maddow dengan Jon Stewart, seorang satiris politik Amerika Serikat, sutradara, aktor, juga kritikus media, dalam link berikut [http://www.youtube.com/watch?v=AkHq_wueVMw], juga pada link selanjutnya ini [http://www.youtube.com/watch?v=tjqYufQVen0].
Soal pewawancara yang justru berbicara lebih banyak dari narasumbernya ini, sempat pula ‘mendera’ Najwa Shihab, pada masa-masa awalnya melakukan wawancara di MetroTV. Seperti misalnya, wawancara Najwa Shihab dengan bintang tamu, Jusuf Kalla dan Wiranto, pada 8 Mei 2009. Wawancara ini, oleh praktisi dan pengamat media, Andreas Harsono, seperti ditulisnya dalam andreasharsono.net, dianggap memiliki gangguan yang cukup berarti. Gangguan itu justru berasal dari Najwa Shihab sendiri, lantaran dalam wawancara tersebut, justru Najwa Shihab yang bicara lebih banyak daripada narasumbernya.
13916393381070187448
Gaya Rachel Maddow sewaktu melakukan wawancara, kerapkali menyorongkan tubuh ke arah narasumber, sebagai simbol memberi perhatian penuh kepada narasumber. (Foto: msnbc.com)
13916395211022762598
Salah satu tipikal khas Najwa Shihab saat melakukan wawancara, selalu menyorongkan tubuh, memberi tatapan mata yang tajam, sebagai salah satu pertanda memberi perhatian penuh kepada lawan bicara. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Beruntung, Najwa Shihab menemukan dan memperbaiki kelemahan performancenya itu. Gaya Rachel Maddow yang lebih banyak bicara saat melakukan interview, tidak serta-merta dipaksakan oleh Najwa Shihab untuk ditiru. Kini, dalam setiap episode Mata Najwa, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Najwa Shihab lebih terstruktur, baik dalam pilihan kalimat, maupun tujuan dari lontaran pertanyaan tersebut, misalnya untuk mengklarifikasi, ‘menginterogasi’, mengkonfrontasi, menguji, memancing narasumber, dan lainnya.
Ketiga, dalam penampilannya saat melakukan interview, Rachel Maddow dengan begitu cerdas, seringkali mengajukan pertanyaan lanjutan yang didasari dari sebuah luncuran jawaban narasumber. Rachel Maddow kadang terlihat ‘kurang sopan’, karena seolah memotong atau menyela jawaban dari narasumbernya. Tapi, dengan gayanya yang chic dan akrab, ia selalu berhasil menetralisir suasana dan tidak memancing perdebatan berkepanjangan hingga berubah menjadi debat kusir.
Bagaimana dengan Najwa Shihab? Saya selalu percaya, bahwa Nana -- sapaan akrab Najwa Shihab -- selalu sudah memperkirakan apa kira-kira jawaban narasumber, atas setiap pertanyaan yang dilontarkan. Selain itu, pertanyaan lanjutannya pun sudah pasti akan dipersiapkan untuk dilontarkan, tentu pada saat wawancara berlangsung. Hal demikian, memang menjadi sebuah keharusan, sekaligus kebiasaan (habbit) dari seorang pemandu talkshow yang cerdas. Itu pula yang kemudian dilakukan Najwa Shihab. Dalam setiap penampilannya, ia rajin mengajukan pertanyaan lanjutan, demi memperjelas/menegaskan kembali jawaban narasumber, maupun untuk ‘memojokkan’ narasumbernya. Banyak pertanyaan lanjutan Najwa Shihab yang memang berbobot, tapi, sesekali ada juga yang justru hanya mengulang jawaban narasumber, sehingga terkesan, Najwa Shihab kehilangan fokus untuk menyimak jawaban narasumbernya.
1391639680323152252
Logo talkshow The Rachel Maddow Show (TRMS) di stasiun televisi MSNBC, Amerika Serikat. (Foto: msnbc.com)
13916397591145568650
Logo talkshow Mata Najwa di MetroTV. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Pertanyaan lanjutan ini, biasa disebut juga sebagai pertanyaan ‘balon’, karena terus membumbung melalui sejumlah pertanyaan berikut yang diajukan oleh pewawancara, sehingga jawaban narasumber dirasa sudah lengkap dan tuntas. Diantara kepiawaian Najwa Shihab
Baik Rachel Maddow dan Najwa Shihab, keduanya pasti sudah sangat memahami bahwa talkshow yang baik adalah yang spontan, alias tidak diatur, di-setting sejak awal sedemikian rupa lebih dulu, misalnya dengan harus mengajukan “pertanyaan begini”, dan musti “menjawab begitu”. Begitu pun dalam mengajukan pertanyaan lanjutan (pertanyaan ‘balon’), rumusnya hanya dua, spontan dan berbobot.
Keempat, beberapa ‘bahasa tubuh’ (body language) yang dilakukan Rachel Maddow saat melakukan wawancara, entah kebetulan atau tidak, dilakukan juga oleh Najwa Shihab. Misalnya, posisi tubuh yang dibuat merunduk untuk seolah menyampaikan pesan kepada narasumber, bahwa keduanya sebagai pewawancara, benar-benar memberi perhatian penuh kepada bintang tamunya. Hal lain adalah, pada saat posisi tubuh merunduk, mata pun dikerlingkan kepada narasumber, sebagai pertanda bahwa kedua pewawancara ini benar-benar menantikan jawaban jujur, atau boleh jadi berupa sebuah pengakuan dari narasumbernya.
1391639861979903382
Kebiasaan Najwa Shihab saat melakukan wawancara dalam talkshow Mata Najwa adalah menyandarkan dagu di tangannya. Ada makna tersembunyi. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
1391639958482329246
Berganti ke tangan kanan. Kebiasaan Najwa Shihab saat melakukan wawancara dalam talkshow Mata Najwa adalah menyandarkan dagu di tangannya. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Meski demikian, terdapat perbedaan mencolok antara Rachel Maddow dengan Najwa Shihab, pada saat keduanya tengah menjadi interviewer. Perbedaan itu adalah Najwa Shihab terlalu sering menyangga dagunya, baik dengan tangan kanan maupun kiri, secara bergantian. Rachel Maddow, meski memiliki dagu yang lebih lancip dari Najwa Shihab, justru jarang, bahkan sulit untuk menemukan saat dimana Rachel Maddow menyangga dagu dengan tangannya.
Seringnya Najwa Shihab ‘mendaratkan’ dagu di salah satu tangannya, sebenarnya dapat menjadi bumerang bagi Najwa Shihab sendiri. Maklum, posisi dagu yang disandarkan pada salah satu atau bahkan kedua tangan, dapat berarti negatif, yaitu menunjukkan sikap kebosanan pewawancara terhadap narasumber, atau seseorang terhadap lawan bicaranya.
Tapi, kalau hendak dicari makna-makna lain, atas apa yang kerapkali dilakukan Najwa Shihab yakni dengan menyandarkan dagunya ke salah satu tangan, ternyata memiliki sejumlah arti, seperti yang pernah disampaikan olehDuncan Lieberman dan Dennis Berger, dalam bukuMenyimak Kata Menyingkap Maksa – Taktik dan Strategi dalam Komunikasi Bisnis (Prestasi Pustaka, 2004).
13916400302133059551
Kerlingan mata Rachel Maddow. (Foto: msnbc.com)
1391640090240378402
Kerlingan mata Najwa Shihab yang penuh arti. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
Menurut keduanya, dagu yang disandarkan ke salah satu tangan, atau meletakkan jari-jemari di salah satu pipi juga dekat ujung mata, dapat berarti bahwa yang melakukannya sedang menyimak sambil berpikir kritis. Apabila dagunya diturunkan maka itu sebagai pertanda ketidak-setujuan. Sedangkan apabila dilakukan sembari menurunkan alis mata, maka itu artinya, sedang dalam kondisi yang (berpikir) kritis. Sementara, apabila dilakukan sembari mengerutkan pupil mata, itu adalah sebuah body language yang berarti sedang bersikap negatif.
Kelima, baik Rachel Maddow maupun Najwa Shihab, sama-sama tidak banyak menyebutkan suara sela dari mulut pewawancara pada saat narasumber berbicara. Seperti misalnya, melontarkan suara ‘he’eh’, ‘iya iya’, ‘baik’, dan lain sebagainya. Terlalu seringnya pewawancara menyuarakan suara sela, akan mengganggu kenyamanan khalayak atau pemirsa, pada saat menyimak jawaban narasumber.
* * *
Akhirnya, yang cukup membanggakan adalah, kedua pemandu talkshow ini selalu saja bertabur anugerah penghargaan. Sebut saja misalnya, Mata Najwa pernah menerima Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Award 2010untuk episode Separuh Jiwaku Pergi dengan narasumber BJ Habibie. Lalu, dianugerahi penghargaan sebagai TalkshowInspiratif 2011 versi Dompet Dhuafa. Masih pada 2011, Najwa Shihab menggondol penghargaan dari Asian Television Awardssebagai pemenang kedua atau Highly Commendeduntuk kategori Best Current Affairs Presenter dalam program Mata Najwa.
13916401591533129599
Najwa Shihab saat melakukan wawancara dengan narasumbernya. (Foto: Mata Najwa di MetroTV)
13916402251796024941
Rachel Maddow (kanan) saat melakukan wawancara dengan narasumbernya. (Foto: msnbc.com)
Sedangkan Rachel Maddow, tercatat pada Maret 2010, berhasil memenangkan Annual GLAAD Media Awards ke-21untuk kategori Outstanding TV Journalism segmenNewsmagazine, yaitu dalam episode Uganda Be Kidding Me. Tahun berikutnya, ia kembali memenangkan News and Documentary Emmy untuk kategori Outstanding Diskusi Berita dan Analisis dalam acara Good Morning, Landlocked Central Asia. Sedangkan pada 2012, Rachel Maddow dinominasikan untuk meraih News and Documentary Emmy, kali ini dalam tayangan berjudul Know Nukes.
Dari sudut usia, kedua perempuan ini hanya berselisih empat tahun. Najwa Shihab lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada17 September 1977, sementara Rachel Maddow lahir di Castro Valey, California, Amerika Serikat pada 1 April 1973. Najwa memiliki kehidupan pribadi yang bahagia bersama suami dan anak lelaki tercintanya. Sedangkan Rachel Maddow? Semua orang di Amerika Serikat, kiranya mahfum, kalau empunya situs rachelmaddow.com ini adalah seorang lesbian, dan pernah memproklamirkan statusnya itu secara terang-terangan melalui GQ Magazine edisi November 2008. Kata Rachel Maddow, “I’m a big lesbian who looks like a man …”.
Hmmm 

NADIEM MAKARIEM PENDIRI GO-JEK

My tabung inspirasiku.co.id.
Nama Nadiem Makarim sebagai Pendiri GO-JEK semakin terkenal seiring dengan 'booming' nya nama Go-Jek di Indonesia. Go-Jek merupakan sebuah perusahaan jasa transportasi dengan menggunakan ojek dengan segala kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan kepada penggunanya yang berdiri pada tahun 2011. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi mobile, GO-JEK berhasil merevolusi industri transportasi Ojek. Fitur yang ditawarkan GO-JEK pun berbagai macam seperti pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja dan berpergian di tengah kemacetan, dimana semua ide itu berawal dari Nadiem Makarim. Sangat sedikit informasi yang didapat oleh biografiku.com mengenai profil masa kecil Nadiem Makarim. Dari berbagai sumber yang didapat, pria kelahiran 4 Juli 1984 ini memiliki seorang ayah yang berasal dari Pekalongan yang berprofesi sebagai pengacara dan ibu dari Pasuruan yang bekerja di bidang non-profit. Nadiem Makarim memiliki dua saudara perempuan. 

Profil Nadiem Makarim
Di ketahui bahwa Nadiem Makarim mulai bersekolah SD di Jakarta, kemudian ia lulus SMA di Singapura, dari Singapura ia kemudian melanjutkan pendidikannya di jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat. dan selama setahun ia mengikuti program foreign exchange di London School of Economics. Ia juga melanjutkan studinya di Harvard Business School, Harvard University dan lulus dengan menyandang gelar MBA (Master Business Of Administration). Nadiem Makarim diketahui pernah bekerja di sebuah perusahaan Mckinsey & Company sebuah konsultan ternama di Jakarta dan menghabiskan masa selama tiga tahun bekerja disana. Diketahui pula ia pernah bekerja sebagai Co-founder dan Managing Editor di Zalora Indonesia kemudian menjadi Chief Innovation officer kartuku. Berbekal banyak pengalaman selama bekerja, Nadiem Makarim kemudian memberanikan diri untuk berhenti dari pekerjaannya dan mendirikan perusahaan GO-JEK pada tahun 2011.
 ...Saya tidak betah kerja di perusahaan orang lain. Saya ingin mengontrol takdir saya sendiri - Nadiem Makarim.
Alasan sederhana itulah yang membuat Nadiem Makarim mencoba merintis perusahaan sendiri yang kemudian dikenal dengan nama GO-JEK berbekal pengalaman kerja serta memiliki jiwa enterpreneurship. Ide bisnis transportasi GO-JEK sendiri berasal dari pemikiran Nadiem ketika ia berdiskusi dengan tukang ojek langganannya. Nadiem Makarim jarang menggunakan mobil karena mobilitasnya yang
tinggi, ia lebih sering menggunakan jasa ojek. Dari perbicangannya dengan para tukang ojek, ia menemukan kenyataan bahwa hampir sebagian besar tukang ojek menghabiskan waktunya hanya menunggu pelanggan saja dan susah untuk mencari pelanggan, di sisi lain kemacetan Jakarta makin memburuk maka di butuhkan sebuah layanan transportasi yang cepat serta pengiriman yang cepat untuk membantu warga jakarta. 
Biografi Nadiem Makarim - Pendiri GO-JEK
GO-JEK Menawarkan Kemudahan dan Kenyamanan Penggunanya
Nadiem Makarim dan Perusahaan Ojek Modern Berteknologi
Kemudian pada tahun 2011, GO-JEK sebagai perusahaan resmi didirikan oleh Nadiem Makarim yang kemudian menjabat sebagai CEO GO-JEK. Layanan Go-jek menawarkan kemudahan serta kecepatan dengan bekerja sama dengan para Tukang Ojek di bawah nauangan perusahaan GO-JEK. Layanan Go-jek Nadiem Makarim menawarkan jasa pengantaran barang dan makanan, transportasi, serta jasa belanja. GO-JEK semakin berkembang setelah pada tahun 2014 mendapat suntikan dana dari perusahaan investasi asal singapura yaitu Northstar Group, kemudian perusahaan ojek milik Nadiem Makarim tersebut juga mendapat suntikan dana pada tahun yang sama dari dua perusahaan yakni Redmart Limited dan Zimplistic Pte Ltd.

Kemudian nama GO-JEK makin semakin terkenal pada tahun 2015 ketika merilis aplikasi mobilenya sehingga makin banyak menarik minat pelanggan baru yang menggunakan jasanya. Nadiem Makarim sendiri benar-benar memanfaatkan perkembangan teknologi untuk kemudahan pelanggan menggunakan jasa GO-JEK nya. Para pelanggan GO-JEK dapat menggunakan aplikasi melalui smartphone mereka untuk memesan layanan GO-JEK, selain itu Tarif dari GO-JEK didasarkan pada jarak tempuh dan pembayarannya dapat menggunakan credit (my wallet). Awalnya Nadiem Makarim pada awal mendirikan perusahaan GO-JEK, ia hanya membawahi 20 orang tukang ojek, namun sekarang ia sudah memiliki 10 ribu orang tukang Ojek yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dibawah naungan perusahaannya. Segala inovasi ia lakukan sehingga bisnisnya kemudian banyak diliput oleh media sebagai perusahaan yang merevolusi transportasi ojek.

Itulah informasi mengenai Biografi Nadiem Makarim Sang pendiri GO-JEK dan kisah berdirinya perusahaan GO-JEK. Semoga Informasi ini dapat bermanfaat dan menjadi Inspirasi bagi para pembaca mytabunginspirasiku.co.id.